Menasehati diri lagi

Tulisan Oktober 2019 yang belum sempat di post. Intro dan ending yang agak aneh.

I’m come back!

Mulai bulan ini aku mau giatkan lagi kegiatan menulis ini. Setelah 2 bulan libur, rasanya hidup jadi monoton gitu-gitu aja, gak ada target yang menantang. Hweheheh.

Pada postingan ini, aku mau nostalgia sedikit. Bagaimana aku dulu dan sekarang. Aku suka menganalisis manusia. Manusia dengan berbagai jalan pikirnya dan berbagai wataknya. Mengapa manusia melakukan ini dan mengapa dia mengambil keputusan demikian.

Seseorang pasti punya alasan/latarbelakang ketika melakukan sesuatu, bahkan sekali pun saat dia mengatakan tidak punya alasan. Aku harap kita semua tidak menjadi orang yang mudah menjudge orang lain tanpa tau latar belakang dia.

Dari segi capaian aku mungkin dilihat orang sebagai orang yang beruntung, tapi dari segi mental aku harus belajar lebih keras lagi.

Cerita ini bermula dari sini.

Sekarang aku akan mengakui hal ini: Aku adalah orang yang terencana, sekaligus pelaksana rencana yang buruk.

Aku tau apa yang aku mau, tapi aku tidak melaksanakan apa yang aku mau.

Kembali ke 9 tahun yang lalu, 2010

Aku mulai mimpi-mimpi itu sejak tahun pertama SMA, masuk kampus impian.

Stiker logo kampus impian yang ku peroleh dari teman, ku tempelkan di dapat cermin kamarku agar setiap pagi pergi sekolah aku selalu ingat tujuanku ini. Abang, orangtua, teman dekatku tau hal ini.

Hampir 3 tahun lamanya teguh pada pendirian. Namun, pada akhirnya aku menyerah pada rencana yang telahku susun sejak lama. Ternyata cukup 3 hari untuk meneguhkan hati, berpindah pilihan dari UI ke ITB.

Kejadian berulang di tahun 2017.

Apa yang mau dilakukan setelah S1, sebenarnya aku sudah punya jawabannya. Lanjut S2 setahun dan istirahat 3 bulan di rumah.

Dan di semester yang seharusnya menjadi semester terakhir S2, aku tidak menuntaskannya lagi. Aku memilih bekerja di tempat yang saat itu mungkin ribuan orang menginginkannya.

Tanpa aku sadari aku terjebak melakukan ini, bukan sekali, tapi dua kali, bahkan mungkin ada beberapa kali yang lain tidak disadari.

Orang lain melihat capaian ini kesuksesan, tapi bagiku, sebenarnya tidak. Aku merasa bersalah pada diriku karena aku tidak menuntaskan dengan baik apa yang aku mulai.

Pernah lihat gak gambar seorang penggali tambang yang menyerah saat sebenarnya satu galian lagi ada emas yang dicarinya?

Sama rasanya dengan itu, menyerah di detik-detik terakhir, tapi dalam versi yang berbeda.

Aku rasa ini tidak baik dan aku harus belajar agar tidak terjerumus melakukan hal ini lagi.

Dari semua ini, menyimpulkannya begini:

  1. Menjadi cerdas dan bekerja keras saja tidak cukup, harus menjadi orang yang percaya diri atas apa pilihanmu.
  2. Menjadi percaya diri pun pasti tidak mudah karena akan banyak godaan ke depannya, bisa saja tiba-tiba banyak peluang lain yang datang bersamaan dan di waktu yang tidak tepat (terlalu awal atau terlalu akhir).
  3. Percaya diri atas pilihan tapi di sisi lain tetap pasti ada rasa takut mengalami kerugian, entah itu kerugian besar atau kecil. Cuma satu solusinya agar rasa takut rugi ini hilang: Belajar ikhlas, merelakan sesuatu yang lain demi sesuatu yang lebih baik.

Dan yang paling penting aku harus belajar yang paling dasarnya dari semua ini, belajar menata mimpi agar hanya untuk mencari ridho Allah semua tujuan mimpi-mimpi itu.

This is a crucial matter. Simpel tapi luar biasa sulit mengamalkannya.

Aku benar-benar iri sama orang yang bisa memuarakan semua tujuannya untuk mencari ridho Allah. Di mata ku ini merupakan kepercayaan diri level paling atas.

Bagaimana tidak iri?

Yang aku tau, orang seperti ini tidak mudah takut sama manusia. Tidak akan mudah cemas sama masa depan. Sekalipun gagal, dia tidak akan merasa rugi karena dia yakin niatnya akan tetap sampai dan bernilai tinggi di hadapan Allah.

Orang-orang yang tidak mudah didikte orang lain. Orang-orang idealis yang berpegang teguh pada keyakinannya (yang baik). Menurutku mereka sangat karimastik.

Menceritakan ini bukan berarti tidak bersyukur. Aku bersyukur atas semua apa yang aku dapatkan. Berusaha untuk tidak mengeluh atas sibuknya kerjaan yang aku hadapi, tidak mengeluh atas rekan kerja atau atasan yang tidak sesuai ekspektasi, dan utamanya sadar posisi aku tidak layak mengeluh karena aku sekarang adalah seorang karyawan yang dibayar atas waktuku yang ditukar dengan materi.

Menceritakan ini utamanya aku gelisah karena aku merasa mentalku di masa lalu benar-benar tidak sehat.

Aku bisa tiba-tiba goyah padahal aku sedang berada di track yang aku rencanakan dan track itu berjalan baik padahal.

Setidaknya melalui tulisan ini aku mau menesehati diriku agar bisa jadi lebih baik, agar aku nantinya bisa membentuk anak-anak yang bermental lebih sehat dan lebih hebat di masa mendatang.

*Hahahaha yaampun yaampun udah ngomongin anak, aku umur berapa sih ini wkwkwk.

Sekian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s