Akhirnya Lulus Kuliah Magister

Gak pernah mengira kalau menyelesaikan kuliah S2 bakalan melewati perjalanan yang lebih panjang dari S1. Gak pernah mengira juga bakal menyelesaikan kuliah S2 sambil bekerja.

Iya benar kata orang-orang, kuliah sambil bekerja itu berat. Apalagi kota tempat kuliah berbeda dengan kota tempat kerja. Bandung – Jakarta setiap minggu. Kapok sudah.

2,5 tahun dengan 1 tahun cuti. Akhirnya satu tanggung jawab selesai.

Alhamdu Lillaahi Wa Syukru Lillaah.

Kadang masih terheran-heran, kok bisa menyelesaikannya?

Padahal hari-hari menjalaninya sering berkutat dengan pemikiran: “apa sih yang dicari dari capek-capek menyelesaikan kuliah S2? Kerja kan juga sudah dapat. Bukannya tujuan kuliah adalah mencari kerja?” “Nanti kan bisa ulang lagi kuliah S2 nya?”

Ada hari dimana di perjalanan kereta Bandung-Jakarta, saya ingin menangis karena saking capeknya hahaha.

Sore hari itu habis seminar 1, dengan membawa 3 rangkap dokumen yang berat, lari-larian di stasiun karena hampir ketinggalan kereta untuk balik ke Jakarta. Ter-on time waktu kedatangan yang saya pernah alami, pas duduk, keretanya langsung jalan.

Entah kenapa semenit kemudian perasaan menjadi sendu, mungkin karena saking capeknya jadi kepikiran: “ngapain capek-capek sih, kuliah S2 juga belum tentu berguna untuk akhirat?”

Ada hari-hari dimana ingin mencecar diri sendiri karena tidak bisa maksimal. Semua hasil dari yang dikerjakan menjadi setengah-setengah, jauh dari harapan.

Hari-hari dipenuhi dengan rasa sungkan karena sering izin meninggalkan kantor. Sungkan dengan atasan dan rekan karena terkadang tidak bisa berkontribusi. Sungkan karena ada tanggung jawab yang tidak bisa dipenuhi dengan maksimal.

Mulai dari yang kenal dekat sampai yang gak kenal dekat dihubungi untuk meminta bantuan saat ada urusan administrasi kampus yang mendadak infonya dikabari harus segera ditindaklanjuti. Benar-benar saat itu merasa jadi orang yang banyak banget ngerepotin orang. Gengsi dilawan, padahal sebenarnya gak suka ngerepotin dan repotin orang.

Ada hari-hari dimana berkelana dengan KRL Jakarta-Depok-Bogor-Tangsel untuk mengajukan permohonan data dari intansi. Karena kuliah sambil kerja, 6 bulan lamanya mengurus surat menyurat dan permohonan wawancara dan data tersebut. Kadang kesal sendiri karena merasa seharusnya semua bisa cepat diselesaikan bila kondisinya ideal.

Jadi kalau ditanya kenapa bisa menyelesaikannya?

Karena gak mau punya penyesalan, padahal peluang dan previledge itu ada.

Alhamdulillah, Allah beri kemudahan.

Punya orang tua yang bisa support finansial untuk biaya hidup dan kuliah. Yang selalu khawatir bila anaknya melakukan perjalanan, selalu nanyain bila sudah tiba di tujuan. Orang tua yang akan luluh dan mensupport bila anaknya gigih. Ya, mendapat dukungan orang tua juga gak mudah awalnya.

Punya teman yang masih di bandung. Teman yang dengan sabarnya mau direpotin. Teman-teman baik yang masih mau mendengar keluh kesah drama perkuliahan dan turut membantu dalam menyelesaikannya.

Para atasan dan rekan kerja yang support, yang memberikan izin untuk menyelesaikan perkuliahan. Bila memang tidak dizinkan dan harus memilih antara kerja atau menyelesaikan kuliah pun sebenarnya juga sudah mempersiapkan mental dan plan lain.

Dosen pembimbing yang support banget, yang sabar, yang mudah dihubungi dan mudah ditemui. Beneran bersyukur banget, gak mengalami drama bimbingan tesis yang banyak dialami orang-oranag. Sempat ganti dosbing dan tema tesis, tapi ternyata itulah yang terbaik.

Saat sudah di titik pasrah karena ngerasa ga kekejar untuk menyelesaikan draft tesis dan sudah lama juga gak update progres ke dosen, eh tiba-tiba dosbing nanyain.  Padahal itu cuma nanyain sudah tahu info jadwal seminar atau belum, hahaha. Tapi beneran deh tiba-tiba jadi semangat lagi

Transportasi Jakarta-Bandung juga masih mudah dicapai dan ada setiap jam. Jarak pool travel dari kantor/kosan Jakarta Cuma 5-10 menit. Dan pool travel di Bandung juga sedekat itu 5-10 menit. Kemudahan akses ini juga jadi faktor semangat sih, kebantu banget.

Terima kasih banyak buat semuanya yang telah membantu. Sesederhana ucapan mendukung, pertanyaan kabar, dan mau mendengarkan keluhan ini sangat memberi semangat di masa-masa terendah.

Sebenarnya bisa saja menyelesaikan tesis gak terburu-buru. Mundurin target sampai wisuda Juli.

Namun setiap sudah titik berpasrah karena lelah mengerjakan semuanya, tiba-tiba motivasi datang dari yang gak disangka-sangka. Saat pasrah sudah buntu banyak sekali hambatan, tiba-tiba bisa berpikir jernih menemukan solusi. Rasanya semesta sudah mendukung saya dan saya gak boleh berhenti.

Semua harus tetap coba diusahain. Februari seminar, awal Maret sidang, dan penyelesaian administrasi kuliah selesai sehari sebelum kampus tutup karena Pandemi Covid.

Apa jadinya kalau saat itu berhenti mengerjakan? Target lulus Juli mungkin malah makin mundur lagi karena kondisi pandemi, hahaha.

Sungguh pengalaman luar biasa, jadi mengenal diri sendiri dan makin bersyukur akan banyak hal. Kalau diingat lagi, suka senyum-senyum sendiri mengingat cerita awal tahun ini. Siapa sangka ternyata Allah pilihkan lulus di April 2020 adalah yang terbaik.

Tanpa perayaan yang berlebihan, bukanlah masalah. Allah beri gantinya lebih.

Perasaan yang lebih tenang karena satu target sudah tuntas. Mimpi untuk bisa libur panjang setelah lulus kuliah juga tercapai. Dulu waktu lulus S1 saya ingin bisa libur panjang setelah wisuda, dan ternyata tercapainya saat lulus S2. Libur panjang (alias WFH) karena pandemi, hehehe.

Alhamdulillah.

2 thoughts on “Akhirnya Lulus Kuliah Magister

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s