Perencanaan Unit Air Baku SPAM

Kajian Teknis merupakan salah satu bab penting dalam Dokumen Studi Kelayakan Proyek SPAM. Tujuan utama bab kajian teknis adalah menguraikan kondisi eksisting lokasi wilayah perencanan dan kaitannya dengan teknis-teknis apa saja yang perlu dipersiapkan dan alternatif pilihan teknologinya berdasarkan kondisi eksisting tersebut.

Sekilas tentang Bab Kajian Teknis

Dalam Permen PU 27/2016 sebenarnya tidak merinci bab-bab apa saja yang terdapat dalam Dokumen Studi Kelayakan (FS), hanya menjabarkan aspek-aspek utama yang mesti ada. Untuk Proyek SPAM KPBU, muatan bab-bab dalam dokumen FS telah diuraikan secara rinci dalam Toolkit KPBU Bappenas. Muatan bab ini juga dapat dijadikan referensi dalam penyusunan FS Proyek SPAM Non KPBU.

Berikut adalah muatan Bab Kajian Teknis berdasarkan Toolkit KPBU Bappenas.

  1. Penyediaan Air Minum Eksisting
  2. Unit Air Baku
  3. Unit Transmisi
  4. Unit Produksi
  5. Unit Distribusi
  6. Unit Pelayanan
  7. Spesifikasi Keluaran
  8. Jadwal Pelaksanaan Konstruksi

Dalam postingan ini akan fokus membahas hal-hal yang perlu ada dalam kajian unit air baku.


Perencanaan Unit Air Baku

Dalam kajian unit air baku, yang paling penting dilakukan adalah kajian terhadap kehandalan air baku dari segi kualitas, kuantitas, kontinuitas dan perijinannya. Selain itu juga perlu dilakukan kajian terhadap desain unit air baku yang telah ada.

Beberapa hal penting yang perlu ada dalam kajian unit baku adalah:

1. Ketersediaan Air Baku

Ketersediaan air baku harus dipastikan dengan adanya kajian neraca air dan alokasi penggunaan air dari sumber tersebut sesuai dengan Permen PU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Pedoman Teknis dan Tata Cara Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air.

Salah satu hal yang penting dilakukan adalah melakukan pertemuan formal dengan penyedia air baku, sehingga didapatkan hal-hal berikut:

  1. Informasi kapasitas sumber yang lebih akurat, masukan, tanggapan, koreksi, klarifikasi dan sanggahan terhadap hasil inventarisasi, identifikasi potensi dan permasalahan sumber daya air sesuai dengan harapan keinginan masyarakat serta badan usaha. Hasil ini perlu diikuti dengan dibuatnya Berita Acara pertemuan.
  2. Memastikan tata cara perijinan serta penetapan tarifnya yang mengacu pada Permen PUPR Nomor 37/PRT/M/2015 tentang Izin Penggunaan Air dan/atau Sumber Air.

Dalam dokumen FS perlu diuraikan kondisi sumber air baku di lokasi wilayah pelayanan dan alasan/kriteria pemilihan sumber air baku tersebut.

Di beberapa dokumen FS yang pernah dibaca, hanya menguraikan sumber air baku yang terpilih saja, misalnya jika dari air permukaan, kondisi sungai x tersebut saja yang dibahas. Namun ada baiknya juga menguraikan informasi sumber air baku lainnya jika memang data tersedia dan pertimbangan kenapa tidak memilih sumber tersebut.

Berikut ini adalah jenis-jenis sumber air baku dan data yang diperlukan.

Jenis sumber air bakudata yang diperlukanSumber data
Mata air– Lokasi dan ketinggian
– Kualitas air (visual dan pemeriksaan laboratorium)
– Kuantitas dan kontinuitas air (hasil pengamatan dan pengukuran pada musim kemarau)
– Peruntukan saat ini
– Kepemilikan lahan di sekitar mata air
– Jarak ke daerah pelayanan
– Hal-hal yang mempengaruhi kualitas
– Jalan masuk ke mata air
– Survey
– Laporan RISPAM
– Balai Wilayah Sungai (BWS) / Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS)
Air tanah– Lokasi
– Kualitas, kuantitas, dan kontinuitas
– Peruntukan saat ini
– Kepemilikan
– Jarak ke daerah pelayanan
– Jalan untuk masuk ke lokasi
– Survey
– Laporan RISPAM
– Peta kondisi air tanah yang dikeluarkan Ditjen Geologi
Tata Lingkungan
Air permukaan
(air sungai, air danau, bendungan/ embung)
– Lokasi dan ketinggian
– Kualitas air (visual dan pemeriksaan laboratorium)
– Kuantitas dan kontinuitas air (hasil pengamatan dan pengukuran pada musim kemarau)
– Peruntukan saat ini
– Jarak ke unit pengolahan dan ke daerah pelayanan
– Survey
– Laporan RISPAM
– BWS / BBWS
Air hujan– Curah hujan
– Kualitas dan kuantitas air hujan
BMKG
contoh: Buletin Hujan Bulanan
Sumber: Permen PU 18/2020; informasi lainnya

Proyek SPAM jaringan perpipaan yang dibangun Pemerintah umumnya mengutamakan sumber dari air permukaan. Penggunaan air tanah sangat dihindari karena penggunaan air tanah yang berlebihan secara terus-menerus dapat menyebabkan terjadinya penurunan permukaan tanah.

HIGHLIGHTS

Kriteria utama dalam pemilihan sumber air baku adalah dari segi kualitas, kuantitas, kontinuitas, dan perizinan.

  • Kualitas : Memenuhi baku mutu air kelas I sebagaimana diatur dalam PP 82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Pengecekan kualitas air harus dilakukan di laboratorium yang telah terakreditasi.
  • Kuantitas : Kapasitasnya mencukupi untuk memproduksi air minum yang sejumlah yang direncanakan. Tersedia data debit andalan 10 tahun terakhir.
  • Kontinuitas : Tersedia sepanjang masa layan infrastruktur, misal: 25 tahun. Tersedia data debit andalan 10 tahun terakhir.
  • Perizinan: Memperoleh IPSDA

Kualitas : Memenuhi Baku Mutu Air Kelas I

Sumber: Lampiran PP 82/2001

Kuantitas dan Kontinuitas: Data debit andalan 10 tahun terakhir

Data debit diperlukan sebagai acuan untuk rencana pengambilan air baku. Data-data debit sungai yang perlu diketahui yaitu:

  1. Debit minimum
    Debit harian sungai terkecil selama 10 tahun terakhir
  2. Debit maksimum
    Debit harian sungai terbesar selama 10 tahun terakhir
  3. Debit andalan
    Debit andalan diperoleh dari debit minimum dengan pemenuhan kebutuhan air yang akan dipergunakan sebesar 80% dari debit tersedia ditambah keperluan lainnya seperti irigasi, dan ditentukan untuk periode tengah bulanan.
  4. Debit penggelontoran
    Debit penggelontoran diperoleh dari debit minimum dengan pemenuhan kebutuhan air yang dipergunakan sebesar 20% dari debit yang tersedia. Bila tidak tersedia data sekunder, maka lakukan pengukuran debit langsung di lapangan pada musim kemarau dan musim penghujan minimal pada satu periode.

Untuk sumber air baku dari sungai maupun air bendungan atau overflow bendungan, data neraca airnya perlu berkoordinasi dengan BWS/BBWS setempat dan hasil pertemuan tersebut perlu dibuat berita acara pertemuan.

Izin Penggunaan Sumber Daya Air

Penggunaan air permukaan untuk penyediaan air minum, perlu memperoleh izin penggunaan sumber daya air (IPSDA) dari Menteri/Gubernur/Bupati/Walikota sesuai kewenangannya. Dalam mengajukan IPSDA, sebelumnya perlu memperoleh rekomendasi teknis dari pengelola sumber daya air (BWS / BBWS).

Tata cara pengajuan IPSDA mengacu pada Permen PUPR 1/2016 tentang Tata Cara Perizinan Pengusahaan Sumber Daya Air dan Penggunaan Sumber Daya Air. Pengambilan air permukaan dengan debit > 250 Lpd wajib memiliki AMDAL sebagaimana ditetapkan dalam Permen LHK 38/2019.

2. Kajian Intake

Beberapa hal yang perlu dikaji untuk rancangan intake (pengambilan air baku) meliputi:
• Kesesuaian lokasi intake dengan rencana tata ruang.
• Status ketersediaan lahan.
• Akses menuju lokasi intake.
• Layout dan rancangan intake.
• Kualitas air baku.

Persyaratan lokasi penempatan dan konstruksi intake sumber air permukaan (SNI 7829:2012)

  • a. Penempatan bangunan pengambilan air baku (intake) harus aman terhadap polusi yang disebabkan pengaruh luar (pencemaran oleh manusia dan mahluk hidup lain);
  • b. Penempatan bangunan pengambilan pada lokasi yang memudahkan dalam pelaksanaan dan aman terhadap daya dukung alam (terhadap longsor dan lain-lain);
  • c. Konstruksi bangunan pengambilan harus aman terhadap banjir air sungai dan daya rusak air lainnya sesuai dengan SNI 03-1724–1989, SNI 03-2415-1991, SNI 03-2400-1991, SNI 03-3441-1994;
  • d. Penempatannya pada lokasi yang memudahkan dalam pelaksanaan dan aman terhadap daya dukung tanah, gaya geser, dan lain-lain melalui pengujian yang sesuai dengan SNI 03-2827-1992;
  • e. Konstruksi bangunan pengambilan harus aman terhadap gaya guling, gaya geser, rembesan, gempa dan gaya angkat air (up-lift);
  • f. Penempatan bangunan pengambilan lebih diutamakan di lokasi yang memungkinkan digunakannya sistem gravitasi dalam pengoperasian serta terletak pada aliran/sumber air yang belum tercemar;
  • g. Dimensi bangunan pengambilan harus mempertimbangkan kebutuhan maksimum harian;
  • h. Dimensi inlet dan outlet dan letaknya harus memperhitungkan fluktuasi ketinggian muka air;
  • i. Pemilihan lokasi bangunan pengambilan harus memperhatikan karakteristik sumber air baku;
  • j. Konstruksi bangunan pengambilan direncanakan dengan umur pakai (lifetime) minimal 25 tahun;
  • k. Bahan/material konstruksi agar diusahakan menggunakan material lokal/setempatatau disesuaikan dengan kondisi daerah sekitar;
  • l. Lokasi penyadapan ditempatkan pada salah satu sisi tebing sungai yang relatif sejajar dengan tebing sungai lainnya dengan alur sungai lurus serta aliran stabil;
  • m. Ditempatkan pada ketinggian muka air rata-rata atau lebih rendah, dengan tinggi muka air pada saat musim kering minimal 2 meter. Pada kondisi tinggi muka air pada saat musim kering kurang dari 2 meter, sebaiknya dibuat sumuran;
  • n. Dasar sumber air pada titik penyadapan tidak berubah secara drastis akibat proses erosi/sedimentasi.

3. Kriteria Desain Intake

  • Kriteria desain intake ini tergantung dari jenis sumber air baku yang akan digunakan, apakah berupa sumber air permukaan, mata air, ataupun air tanah.
  • Kajian perlu dilakukan terhadap bangunan sipil, sistem mekanikal dan elektrikal, serta rencana sistem pengoperasian dan pemeliharaannya secara umum.
  • Perlu diulas juga lebih dalam mengenai sumber listrik yang akan digunakan sehingga akan diketahui keperluan infrastruktur listrik yang diperlukan dan juga sistem perizinan dan ketersediaan listrik yang diperlukan apabila akan menggunakan sumber listrik dari PLN.

Peraturan dan Pedoman

Beberapa referensi peraturan dan pedoman yang terkait dengan desain unit air baku yaitu:

  1. Permen PU No.18 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan SPAM
  2. SNI 7829:2012 tentang Bangunan Pengambilan Air Baku Untuk Instalasi Pengolahan Air Minum
  3. Permen PUPR No.26 Tahun 2014 tentang Prosedur Operasional Standar Pengelolaan SPAM dan Lampiran 1 tentang POS Unit Air Baku

Tipe Bangunan Pengambil Air Baku

Jenis sumber air bakuTipe bangunan pengambilan air baku
Mata airBangunan penangkap / broncaptering
Bangunan pengumpul / sumuran
Air tanahAir tanah dangkal –> Sumur dangkal, sumur gali
Air tanah dalam –> Sumur dalam, sumur bor
Air permukaan
(air sungai, air danau, bendungan/ embung)
Air sungai –>Intake bebas, intake dengan bendung, intake dengan ponton, intake dengan jembatan, saluran resapan (Infiltration galleries)
Danau/waduk –> Intake bebas, intake dengan bendung, intake dengan ponton, intake dengan jembatan
Bendungan/embung –> Intake bebas, intake dengan jembatan
Air hujanPAH (Penangkap air hujan)
Sumber: Permen PU 18/2020; SNI 7829:2012; informasi lainnya

Tipe-tipe bangunan pengambilan air baku untuk air permukaan yaitu:

tipe intakeunit kelengkapanpertimbangan pemilihan
Intake bebasa) Saringan sampah,
b) Inlet,
c) Bangunan pengendap,
d) Bangunan sumur atau
pemompaan,
e) Pintu sorong.
a) Fluktuasi muka air tidak terlalu besar,
b) Kedalaman air cukup untuk dapat masuk ke inlet,
c) Harus ditempatkan pada sungai yang lurus,
d) Alur sungai tidak berubah-rubah,
e) Kestabilan lereng sungai cukup mantap.
Intake dengan
bendung
a) Saringan sampah,
b) Inlet,
c) Bendung konvensional,
d) Pintu bilas.
a) Kedalaman air tidak cukup untuk bangunan pengambilan bebas,
b) Kandungan sedimen sungai tidak terlalu besar,
c) Sungai tidak dimanfaatkan untuk transportasi,
d) Palung sungai tidak terlalu lebar.
Intake dengan
ponton
a) Bangunan terapung (perahu atau rakit),
b) Ruang pompa,
c) Pengamanan benturan,
d) Penambat,
e) Tali penambat,
f) Pipa fleksibel,
g) Saringan atau strainer,
h) Penerangan.
a) Sungai mempunyai bantaran yang cukup lebar,
b) Fluktuasi muka air cukup besar,
c) Kedalaman air cukup untuk penempatan pompa.
Intake dengan jembatana) Jembatan penambat,
b) Jaringan sampah,
c) Ruang pompa.
a) Fluktuasi muka air tidak terlalu besar,
b) Hanyutan sampah tidak banyak,
c) Bantaran sungai tidak cukup lebar.
Saluran filtrasia) Media infiltrasi,
b) Pipa pengumpul (pipa kolektor),
c) Sumuran.
a) Kedalaman air sungai dangkal,
b) Aliran air tanah cukup untuk dimanfaatkan,
c) Sedimentasi dalam bentuk lumpur sedikit,
d) Muka air tanah terletak maksimum 2 meter dari dasar sungai,
e) Kondisi tanah dasar sungai cukup porous.
Sumber: SNI 7829:2012

Dokumentasi Lapangan

Umumnya pada proyek-proyek yang telah penulis kunjungi, unit air baku terdiri dari intake dan bak prasedimentasi. Dokumentasi kunjungan penulis ke unit air baku yang bersumber dari air sungai dapat dilihat pada postingan berikut ini.

Survey Intake Kalhol di Samarinda

Pada Oktober 2019 lalu, saya berkesempatan untuk melihat lokasi dan kondisi unit air baku dari SPAM Kalhol Kota Samarinda. Kondisi eksisting SPAM saat itu adalah sudah terbangun unit air baku namun belum terdapat unit pengolahan. Unit pengolahan tahap I dengan kapasitas 250 lpd direncanakan dibangun tahun 2020-2021.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s